Ini bukan tutorial atau panduan kerja. Ini cuma cerita tentang aku, Figma, dan hari-hari ketika layar kosong terasa lebih menakutkan daripada deadline.
Aku sebenarnya nggak pernah merencanakan masuk ke dunia UX. Rasanya justru UX yang datang lebih dulu. Awalnya ya seperti banyak orang: baca artikel, nonton video YouTube dengan judul bombastis, lalu ikut bootcamp yang menjanjikan bisa jadi UX designer dalam 30 hari. Klise, memang. Tapi dari sana aku mulai belajar.
Lama-lama jadi nyaman. Sampai suatu pagi atasan minta dibuatkan website korespondensi untuk menggantikan sistem surat manual. Waktunya dua minggu.
Aku cuma bisa bengong sebentar. Rasanya ingin menatap langit-langit dan berharap ada jawaban muncul begitu saja. Tentu tidak ada. Yang ada malah pikiran sendiri: bikin sistem itu tidak sesederhana ceplok telur.
Mulai dari mana? Siapa yang harus diajak bicara? Apa developer bisa mengejar waktunya? Setelah panik sebentar, aku coba tarik napas dan memecah semuanya jadi langkah-langkah kecil.
Aku mulai dari menemui salah satu pejabat eselon IV. Menjelaskan targetnya, gambaran alurnya, dan waktu yang cukup mepet. Beliau banyak mengangguk. Entah benar-benar paham atau sekadar menghargai penjelasanku, tapi dari obrolan itu setidaknya aku punya titik awal.
Setelah itu aku menemui kepala bagian tata usaha, karena merekalah yang nantinya akan menggunakan sistem ini setiap hari. Dari sana mulai kelihatan kebutuhan sebenarnya: siapa yang mengunggah surat, siapa yang bisa melihat, bagaimana jalur paraf berjalan, kapan surat harus diteruskan, dan di mana prosesnya berhenti.
Akhirnya aku kembali ke Figma.
Mulai dari yang sederhana: login, unggah surat, lalu tracking status. Di atas kertas kelihatannya mudah. Tapi ketika masuk ke detail, ternyata tidak sesederhana itu. Ada banyak role, izin akses yang berbeda-beda, dan surat rahasia yang hanya boleh dilihat orang tertentu. Peta peran dan aksesnya bahkan aku buat sampai tiga kali sebelum terasa cukup masuk akal.
Besoknya wireframe kasar selesai. Aku langsung minta demo singkat. Bukan untuk pamer hasil, tapi supaya kesalahan bisa ketahuan lebih awal. Ada beberapa masukan: tampilan dibuat lebih sederhana, alur sedikit disesuaikan. Untungnya tidak ada perubahan besar yang membuat semuanya harus diulang dari awal.
Tiga hari kemudian, prototype selesai. Tentunya sambil tetap mengerjakan pekerjaan lain, jadi jam tidur juga ikut berantakan. Capek pasti, tapi ada jenis capek yang tetap terasa menyenangkan karena kita tahu sesuatu sedang mulai terbentuk.
Saat demo lanjutan, stakeholder operasional datang untuk mencoba prototype-nya. Mereka klik sana-sini, memberi masukan terakhir, lalu akhirnya bilang, "Jalan."
Itu cukup untuk jadi lampu hijau.
Setelah itu aku duduk bersama developer. Reaksi awalnya sudah bisa ditebak: sedikit kaget, sedikit geleng-geleng, lalu mulai membahas apa saja yang mungkin dikerjakan dalam waktu yang ada. Kami bagi tugas dan rutin sinkron setiap hari. Grup chat jadi penuh screenshot, update progres, commit, dan emoji.
Versi pertama akhirnya jadi. Kami coba pakai surat dummy. Halaman unggah berjalan, daftar surat muncul, filter berfungsi, dan log aktivitas tercatat. Tapi tetap ada bug: salah satu role masih bisa melihat surat yang seharusnya tidak bisa diakses. Malam itu juga kami perbaiki.
Lalu datang hari go live.
Tidak ada seremoni atau potong pita. Aku hanya datang ke beberapa ruangan untuk mendampingi user berdasarkan role masing-masing. Menjelaskan cara pakai dasarnya, menunjukkan tombol-tombol penting, dan menerangkan kenapa beberapa menu tidak muncul untuk semua orang. Bukan error, memang aksesnya berbeda.
Tentu masih ada yang membandingkan dengan cara lama. "Biasanya pakai WhatsApp saja." Wajar. Kebiasaan memang tidak langsung berubah hanya karena ada sistem baru. Tapi pelan-pelan mereka mulai mencoba.
Sore harinya, sistem itu benar-benar mulai dipakai. Notifikasi masuk, log aktivitas bertambah, dan angka di dashboard admin bergerak. Di ruang tata usaha, ada seorang staf yang bilang pelan, "Sekarang lebih gampang, ya."
Nggak ada tepuk tangan. Tapi itu sudah cukup.
Malamnya, aku kembali menatap layar kosong dengan kursor yang berkedip. Aku jadi berpikir, mungkin UX bukan soal siapa yang paling cepat atau paling jago memakai tools. Mungkin lebih banyak soal siapa yang mau tetap berjalan ketika arahnya belum jelas.
Hal yang tidak pernah benar-benar diajarkan bootcamp adalah: UX juga tentang membangun kepercayaan. Lewat tampilan yang tidak membingungkan, jarak antar elemen yang nyaman, dan pesan error yang tidak menyalahkan pengguna. Kalau beruntung, ada seseorang di balik layar yang merasa terbantu, meski tidak tahu siapa yang membuatnya.
Besok mungkin akan ada permintaan baru. Fitur yang katanya penting, atau ide yang akhirnya tidak pernah dipakai. Itu biasa.
Tugasku tetap sama: mendengarkan, menyederhanakan, dan kalau memang perlu, bilang, "Belum dulu."
Untuk sekarang, Figma kututup. Besok lanjut lagi.