Pagi dimulai dengan kartu yang dibunyikan. Bip.
Kopi pahit, kursi yang sedikit berdecit.
Aku tutup tab yang tidak perlu, lalu buka yang memang harus dikerjakan: spreadsheet, kanban, dan catatan rapat kemarin.
Seharian aku merapikan banyak hal.
Alur kerja yang tersendat, presentasi yang belum utuh, kata-kata yang masih berantakan.
Nama orang-orang muncul di email.
Namaku sering hanya lewat di baris CC.
"Perlu bantuan?" tanya mereka.
"Kadang," jawabku. "Tapi bukan itu."
Yang kuinginkan sebenarnya sederhana: kerja yang kulakukan dilihat.
Notifikasi datang bertubi-tubi.
Meja tidak benar-benar bergetar, tapi rasanya begitu.
Aku kirim hasil kerja yang sudah selesai.
"Ini sudah aku rapikan. Tolong dicek, ya."
Bukan karena aku ingin bicara paling keras.
Aku cuma ingin angka-angkanya dibaca, alurnya dipahami, dan usaha kecil yang menyatukan semuanya itu dianggap ada.
Lalu lama-lama aku mengerti:
tidak semua orang akan melihat,
dan tidak semua pintu dibuka untuk kita, seberapa pun sopan kita mengetuknya.
Jadi aku berhenti mengetuk.
Bukan karena menyerah.
Aku hanya memilih jalan lain.
Aku mulai mengumpulkan lagi rasa percaya diri yang sempat tercecer: di sela keyboard, di tumpukan kertas, di pekerjaan-pekerjaan yang selesai tanpa pernah banyak dibicarakan. Aku belajar hal baru. Aku melepas hal-hal yang tidak lagi memberi ruang untuk tumbuh.
Belajar jadi jalan keluar.
Membaca jadi tempat beristirahat.
Dan bebas, pelan-pelan, jadi keputusan yang kubuat sendiri, bukan sesuatu yang harus menunggu diberikan.
Teruslah berjalan.
Kalau tidak ada yang menyebut namamu,
sebut namamu sendiri.
Kamu tidak selalu membutuhkan pengakuan orang lain untuk tahu bahwa kamu berharga.
Kadang, yang paling perlu kamu dengar adalah suaramu sendiri.