Bandung Cepat Sekali Hari Itu
cerita

BandungCepatSekaliHariItu

Perjalanan singkat ke Bandung yang tidak mengejar banyak tujuan: sarapan hangat, toko buku yang tenang, kopi di tengah antrean, dan waktu untuk duduk tanpa terburu-buru. Sebuah pengingat bahwa kadang perjalanan paling berkesan justru tersusun dari hal-hal kecil di sepanjang jalan.

29 Juli 2026·4 menit baca

Kami sebenarnya niat tidur cepat, tapi baru benar-benar merem lewat jam dua belas. Ya, begitulah. Paginya tetap harus jalan: bangun, mandi seadanya, masukin barang ke tas, lalu berangkat ke Bandung.

Pagi itu Jakarta cukup bersahabat. Dari kejauhan kelihatan gunung—entah Salak atau Gede-Pangrango—cukup jelas di ujung langit. Jalanan juga lumayan lancar, dalam arti macetnya masih bisa ditoleransi.

Kami lewat Jalan Layang MBZ, lalu masuk ke arah Tol Cipularang. Mobil kecil kami, Mitsubishi Mirage 1.2, cukup enak dibawa melaju. Cipularang tetap Cipularang: naik-turun, kadang bikin agak waswas kalau ketemu rombongan truk di depan. Dua jam lebih sedikit kemudian, kami sampai di Pasteur 2. Seperti biasa, lampu merahnya menyambut dengan sabar.

Tujuan pertama tentu sarapan. Dua tempat yang kami incar ternyata penuh semua. Parkiran padat, meja penuh, antrean sudah panjang. Daripada mulai hari dengan berdiri menunggu, kami memilih Bubur Ayam H. Amid. Pilihan aman, tapi memang susah salah. Buburnya hangat, gurihnya pas, dan sendok pertama rasanya langsung bikin lega.

Setelah itu kami ke Kineruku. Tempat ini memang selalu punya suasana yang enak: rumah buku, kedai, dan ruang untuk duduk lama tanpa merasa harus buru-buru. Bau buku, kayu, dan kopi bercampur di dalamnya. Saya jalan pelan di antara rak-rak, berharap menemukan buku yang menarik perhatian. Akhirnya pulang membawa empat: Lapar, Kenang-Kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub, Rumah Kertas, dan Sepakbola Tak Akan Pulang.

Kami sampai sekitar jam setengah dua belas, pas mereka baru buka. Parkirnya sempat bikin bingung karena letaknya terpisah, tapi untung ada satpam yang ramah menunjukkan arah. Di dalam masih sepi dan adem. Rasanya enak sekali bisa duduk di tempat seperti itu tanpa dikejar waktu.

Karena belum terlalu lapar, kami memutuskan cari kopi. Pilihannya di Bandung jelas banyak, tapi kali ini kami penasaran dengan Makmur Jaya Coffee Roasters di Sawunggaling, yang sedang cukup ramai dibicarakan.

Lokasinya di pojok jalan kecil, dengan parkir yang tidak terlalu banyak. Kami untung masih kebagian satu tempat, meski harus sedikit geser-geser supaya mobil tidak kena ranting. Saat turun, ada seorang pria yang baru keluar sambil bilang ke temannya, "Gila, antriannya nggak masuk akal." Kami sempat saling lihat, tapi akhirnya tetap masuk. Sudah terlanjur datang.

Antreannya memang panjang. Di depan kami ada yang sibuk melihat ponsel, ada yang diam menatap keluar, ada juga yang ngobrol pelan. Ketika giliran datang, kami pesan dua kopi susu. Baristanya kelihatan sibuk, tapi tetap ramah. Setelah menunggu cukup lama, kopi kami akhirnya jadi. Rasanya enak, sederhana, dan pas. Kadang yang dicari memang cuma kopi yang baik dan tempat duduk sebentar.

Setelah itu kami keliling tanpa tujuan yang jelas. Lewat jalan yang sama beberapa kali, melihat patung yang sama dari arah berbeda, sambil memperhatikan pohon-pohon tua di pinggir jalan dan mobil-mobil yang berjalan pelan cari parkir. Bandung hari itu ternyata panas juga. Anginnya tetap lebih enak daripada Jakarta, tapi mataharinya sudah cukup menyengat.

Kami sempat mampir ke satu tempat makan siang yang cukup populer, tapi dari dalam mobil saja sudah terasa terlalu ramai. Akhirnya batal lagi. Untuk ketiga kalinya hari itu, kami memilih tidak ikut masuk ke keramaian.

Makan siangnya justru di restoran Korea kecil di jalan yang lebih sepi. Kami disambut ibu-ibu yang ramah, lalu pesan ramen. Rasanya enak, walaupun harganya menurut kami sedikit lebih tinggi dari yang dibayangkan. Tapi tempatnya tenang dan kami bisa duduk lama tanpa merasa harus segera pergi. Itu sudah cukup.

Sebelum pulang, kami ingin duduk sekali lagi. Cari kopi lain, suasana lain, tapi tetap yang tenang. Akhirnya ketemu Amity Coffee & Space. Letaknya juga di sudut jalan, dengan ruangan terbuka, jendela lebar, dan pintu yang dibiarkan terbuka. Anginnya masuk pelan-pelan. Tidak dingin, tidak panas, pas saja.

Kami pesan dua minuman dan satu camilan. Laptop dibuka karena ada sedikit pekerjaan yang harus dibereskan. Di meja kayu kecil itu, tulisan ini mulai muncul. Awalnya dari obrolan pendek, lalu jadi dorongan untuk mulai menulis lagi.

Saat mesin mobil dinyalakan untuk pulang, rasanya malah seperti baru benar-benar sampai. Mungkin perjalanan memang bukan selalu soal tujuan atau seberapa jauh kita pergi. Kadang yang diingat justru hal-hal kecil di sepanjang jalan: bubur hangat, toko buku yang sepi, antre kopi, dan waktu yang terasa berjalan lebih pelan.

Matahari mulai turun ketika kami meninggalkan Bandung. Kota ini melepas kami dengan cara yang sama seperti saat menyambut: tidak terburu-buru. Di luar, semuanya tetap ramai. Tapi di dalam mobil, kami cukup senang berjalan pelan.